Tampilkan postingan dengan label Panduan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panduan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 November 2010

Melamun Bisa Kurangi Kualitas Hidup


Kebahagiaan kita yang sebenarnya adalah ketika hidup di alam realita, bukan lamunan.

Melamun di sela-sela rutinitas memang melenakan. Mulai dari membayangkan kisah masa lalu yang suram hingga mimpi indah tentang masa depan. Tapi tahukah Anda bahwa kebiasaan ini tak hanya bisa mengganggu pekerjaan, tapi juga membuat seseorang merasa tidak bahagia?

Seperti dikutip dari Genius Beauty, penelitian tim psikolog Universitas Harvard menunjukkan bahwa mayoritas orang menghabiskan 46,9 persen waktunya untuk melamun. Inilah yang dikata membuat kebahagiaan seseorang tereduksi.

Penelitian itu menekankan bahwa kebahagiaan kita yang sebenarnya adalah ketika hidup di alam realita, bukan ketika berkelana dalam lamunan indah tentang sukses hidupnya.

Puncak tertinggi kebahagiaan datang pada waktu komunikasi aktif dengan teman-teman. Teori yang sama menjelaskan mengapa begitu banyak orang lebih suka melakukan olahraga ekstrem, mendaftar di berbagai klub dan menghabiskan malam di bar, sambil berbicara dengan teman-teman.

Banyak orang seringkali tanpa sadar hanyut dalam lamunan ketika mendengarkan musik, bermain, istirahat, bekerja, atau duduk di depan komputer. Lamunan jarang muncul ketika sedang membaca, menonton televisi, atau melakukan pekerjaan rumah.

Demi kepentingan penelitian, tim mengembangkan aplikasi khusus untuk iPhone, yang secara acak mengirim tiga pertanyaan sederhana kepada 2.250 partisipan yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Pertanyaan tersebut yaitu, "Bagaimana perasaan Anda hari ini?", "Apa yang kamu lakukan sekarang?" dan "Apakah Anda saat ini sedang berpikir sesuatu yang lain dari apa yang Anda lakukan?"

Hasilnya, dalam setiap aktivitasnya, mayoritas partisipan membiarkan 30 persen pikirannya berkelana ke alam lamunan. Hanya ketika menjalani aktivitas seksual, mereka cukup fokus.

Masih keasyikan melamun?

Sumber: Vivanews.com

Senin, 25 Oktober 2010

8 Tipe Virus Pemicu Kanker Serviks

Tim peneliti gabungan telah menemukan delapan jenis tipe human papillomavirus (HPV) yang menjadi pemicu 90 persen kanker serviks di seluruh dunia. Temuan ini penting untuk pengembangan vaksin serviks yang lebih baik.

Produsen obat GlaxoSmithKline dan Merck & Co. memang telah membuat vaksin untuk mencegah kanker. Tetapi dengan ditemukannya delapan tipe HPV, vaksin bisa dikembangkan lebih baik lagi.

Kanker merupakan pembunuh wanita kedua di dunia dengan angka kematian mencapai 328 ribu setiap tahun.

Penelitian besar ini melihat data yang terkumpul selama 60 tahun pada 10.575 kanker serviks di 38 negara. Tim internasional dibentuk dan dikepalai oleh Silvia de Sanjose dari Catalan Institute of Oncology di Barcelona, Spanyol.

Hasil penelitian menunjukkan, delapan tipe HPV yang menjadi pemicu utama kasus kanker serviks di seluruh dunia yaitu tipe virus 16, 18, 45, 33, 31, 52, 58, dan 35, dalam urutan frekuensi. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Lancet Medical Journal

Vaksin produksi GSK, Cervarix, dan produksi Merck, Gardasil, hanya melindungi HPV tipe 16 dan 18. Melalui lintas perlindungan, sebagian juga terhadap HPV tipe 31 dan 45.

Banyak negara-negara kaya mulai melakukan program sosialisasi imunisasi HPV untuk wanita sebelum aktif secara seksual. Tetapi secara umum harga vaksin terlalu mahal dan tidak dapat diakses untuk kebanyakan orang yang tinggal di negara-negara miskin.

"Temuan penelitian ini memperkuat alasan untuk pencegahan kanker leher rahim melalui penggunaan vaksin yang ada dan akan membantu pengembangan vaksin generasi kedua terhadap beberapa tipe HPV lainnya," kata De Sanjose, seperti dikutip dari msnbc.com.

Lebih dari 118 tipe HPV teridentifikasi. Sekitar 40 di antaranya menginfeksi saluran genital dan sebanyak 12 tipe diketahui sebagai pemicu kanker.

Dari penelitian yang melihat kasus kanker serviks di Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, Asia dan Oceania ini, peneliti juga menemukan tipe HPV yang jarang ditemui yaitu tipe 26, 30, 61, 67, 69, 82, dan 91. Tipe HPV tersebut juga bisa menjadi pemicu kanker serviks tetapi kemungkinannya hanya satu persen kasus di seluruh dunia.

5 Tanda Wanita Betah Melajang


Wanita melajang konon memiliki keuntungan tersendiri. Mereka bisa bebas menghabiskan gaji, dan tidak ada yang melarang jika ingin bergaul dengan banyak pria.

Namun, apakah wajar jika sudah mulai 'kecanduan' menjadi lajang, dan memutuskan untuk tidak menikah? Menurut Debi Bernt, seorang konselor hubungan dan penulis buku 'Let Love In', bentuk kecanduan menjadi lajang seperti merokok, dan seringkali tidak disadari, yang akhirnya bisa membuatnya lupa untuk menikah.

Nah, ada baiknya para wanita mengenal 5 tanda-tanda betah menjomblo, seperti dikutip dari laman Your Tango.com.

1. Merasa tidak ada pria yang sesuai untuk Anda


Saat mulai dekat dengan seorang pria, Anda mulai memberi penilaian yang tak bisa diganggu gugat. Terlalu kurus, terlalu gendut, busananya aneh, rambutnya berantakan dan masih banyak lagi.

Menjadi 'super pemilih' dan bukan berusaha mencari tahu serta menyesuaikan diri, pertanda Anda kecanduan melajang. Anda tentu sudah tahu bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

2. Selalu tertarik dengan pria yang sudah memiliki pasangan

Anda seringkali merasa tertarik dan menjalin hubungan dengan pria yang sudah memiliki pasangan atau mungkin beristri. Hal ini pertanda Anda sebenarnya hanya ingin menjalin hubungan untuk sekadar bersenang-senang dan mencari tantangan. Bukan untuk masa depan, karena Anda sudah itu itu akan sulit.

3. Sering datangi pesta

Anda banyak mendatangi pesta lalu berkenalan dengan banyak pria, tetapi semua berujung sebatas teman bersenang-senang. Ini bisa menandakan dalam diri Anda belum ingin berkomitmen menjalin hubungan serius, penyebabnya mungkin Anda sudah terlalu nyaman melajang.

4. Kecanduan kerja

Menenggelamkan diri dalam pekerjaan bisa mengurangi kemungkinan untuk mendapat pasangan, karena kehidupan sosial Anda pasti berkurang atau bahkan tidak ada. Bisa jadi Anda terlalu ambisius dalam karier dan tak ingin masa depan karier rusak karena menjalin asmara.

5. Menutup diri


Saat mulai dekat dengan pria, Anda juga cenderung menutup diri. Anda justru membicarakan serunya hidup Anda menjadi seorang lajang. Hal ini tampak bahwa Anda terlalu menikmati melajang dan belum siap melepaskan status tersebut dan tentunya sulit melepas 'kebebasan'.

Kalau merasa termasuk dari 5 di atas, segera konsultasikan ke psikolog Anda.